Rabu, 18 Februari 2009

askep meningitis

BAB I
PENDAHULUAN

Penyakit infeksi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia. Diantaranya adalah meningitis purulenta yang juga merupakan penyakit infeksi perlu perhatian kita.
Meningitis adalah infeksi cairan otak disertai radang yang mengenai piamater, arakhnoid dan dalam derajat yang lebih ringan mengenai jaringan otak dan medula spinalis yang superfisial. Sedang yang dimaksud meningitis purulenta adalah infeksi akut selaput otak yang disebabkan oleh bakteri dan menimbulkan reaksi purulen pada cairan otak. Penyakit ini lebih sering didapatkan pada anak daripada orang dewasa.
Disamping angka kematiannya yang masih tinggi. Banyak penderita yang menjadi cacat akibat keterlambatan dalam diagnosis dan pengobatan. Meningitis purulenta merupakan keadaan gawat darurat. Pemberian antibiotika yang cepat dan tepat serta dengan dosis yang memadai penting untuk menyelamatkan nyawa dan mencegah terjadinya cacat. 
Biarpun kuman mikrobakterium tuberkulosa paling sering menyebabkan infeksi paru-paru, tetapi infeksi pada susunan saraf pusat adalah yang paling berbahaya. Kekerapan meningitis tuberkulosa sebanding dengan prevalensi infeksi dengan mikrobakterium tuberkulosa pada umumnya, jadi bergantung pada keadaan sosial ekonomi dan kesehatan masyarakat.
Penyakit ini dapat terjadi pada segala umur, tetapi jarang dibawah 6 bulan. Yang tersering adalah pada anak-anak umur 6 bulan sampai 5 tahun.
Pada anak, meningitis tuberkulosa biasanya merupakan komplikasi infeksi primer dengan atau tanpa penyebaran milier. Pada orang dewasa penyakit ini dapat merupakan bentuk tersendiri atau bersamaan dengan tuberkulosis ditempat lain. Penyakit ini juga dapat menyebabkan kematian dan cacat bila pengobatan terlambat.
Dalam bukunya Brunner & Sudart, Meningitis selanjutnya diklasifikasikan sebagai asepsis, sepsis dan tuberkulosa. Meningitis aseptik mengacu pada salah satu meningitis virus atau menyebabkan iritasi meningen yang disebabkan oleh abses otak, ensefalitis limfoma, leukemia, atau darah diruang subarakhnoid. Meningitis sepsis menunjukkan meningitis yang disebabkan oleh organisme bakteri seperti meningokokus, stafilokokus atau basilus influenza. Meningitis tuberkulosa disebabkan oleh basilus tuberkel.
Infeksi meningeal umunya dihubungkan dengan satu atau dua jalan, melalui salah satu aliran darah sebagai konsekuensi dari infeksi-infeksi bagian lain, seperti selulitis, atau penekanan langsung seperti didapat setelah cedera traumatik tulang wajah. Dalam jumlah kecil pada beberapa kasus merupakan iatrogenik atau hasil sekunder prosedur invasif (seperti fungsi lumbal) atau alat-alat infasif (seperti alat pantau TIK).

 
BAB II
PEMBAHASAN
“MENINGITIS”

A. PENGERTIAN
- Meningitis adalah radang pada meningen (membrane yang mengelilingi otak dan medulla spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri, atau organ-organ jamur (Brunner & Suddath. 2002. hal. 2175).
- Meningitis adalah suatu infeksi atau peradangan dari meningens dan jaringan saraf dalam tulang punggung disebabkan oleh bakteri, Virus, riketsia atau protozoa, yang terjadi secara akut dan kronis (Harsono 2003).

B. ETIOLOGI
Etiologi atau penyebab dari meningitis sebagian besar disebabkan oleh bakteri, dan selebihnya disebabkan oleh virus, parasit serta jamur. Dari hasil laporan kasus, bakteri penyebab meningitis terbanyak disebabkan oleh: Hemophilus influenzae, Streptococcus pneumoniae dan Neisseria meningitidis. 
Adapun klasifikasi dari meningitis menurut Brunner & Suddath. 2002 yaitu: asepsis, sepsis dan tuberkulosa.
- Meningitis asepsis mengacu pada salah satu meningitits virus atau menyebabkan iritasi meningen yang disebabkan oleh abses otak, ensefalitis, limfoma, leukemia, atau darah diruang sub arachnoid.
- Meningitis sepsis menunjukan meningitis yang disebabkan oleh organisme bakteri seperti meningokokus, stafilokokus atau basilus influenza.
- Meningitis tuberkulosa disebabkan oleh basillus tuberkel.
Sedangkan menurut Ronny Yoes meningitis dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak, yaitu Meningitis Serosa/ Tuberkulosa dan Meningitis Purulenta.
- Meningitis Serosa/Tuberkulosa adalah radang selaput otak arachnoid dan piamater yang disertai cairan otak yang jernih. Penyebab terseringnya adalah Myobakterium Tuberculosa. Penyebab lain seperti Virus, Toxoplasma gondhi, Ricketsia.
- Meningitis Purulenta adalah radang bernanah arachnoid dan piamater yang meliputi otak dan medula spinalis. Penyebanya antara lain: diplococus pneumoniae, Neisseria meningitidis, Streptococcus haemolytiicus, Staphylococcus aureus,haemophilus influenzae, esherchia coli, klebsiella pneumoniae, pseudomonas aeruginosa

Penyebab meningitis pada beberapa golongan umur:
1. neonatus : Escheria colli
  Streptokokus beta hemolitikus
  Listeria monositogenes.
2. anak dibawah 4 thn : Hemofilus influenza
  Meningokokus
  Pneumokokus
3. anak diatas 4 thn & org dewasa: Meningokokus
  Pneumokokus

Beberapa keadaan yang merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya meningitis, yaitu mencakup : Infeksi jalan napas bagian atas, Otitis media, mastoiditis, Anemia sel sabit dan hemoglobinopatis lain, Prosedur bedah saraf baru, trauma kepala, dan pengaruh immunologis. 
Saluran vena yang melalui nasofaring posterior, telinga bagian tengah, dan saluran mastoid menuju otak dan dekat saluran vena-vena meningen; semuanya ini penghubung yang menyongkong perkembangan bakteri.

C. PATOGENESIS
Kuman dapat mencapai selaput otak dan subaraknoidea melalui:
1. Luka terbuka dikepala.
2. Penyebaran langsung dari proses infeksi ditelinga tengah dan sinus paranasalis.
3. Pembuluh darah pada keadaan sepsis.
4. Penyebaran dari abses ekstradural, abses subdural dan abses otak.
5. Lamina kribosa osis etmoidalis pada keadaan rinorea.
6. Penyebaran dari radang paru.
7. Penyebarn dari infeksi kulit.

D. PATOFISIOLOGI

Organisme (Bakteri, Virus, Jamur dll)

Saluran pernapasan, saluran yang menghubung ke otak. 

Melalui aliran darah (Hematogen) menyebar ke bagian meningen

Menyebabkan reaksi radang di dalam meningen dan di bawah daerah korteks, yang dapat menyebabkan thrombus dan penurunan aliran darah serebral

Jaringan serebral mengalami gangguan metabolisme akibat eksudat meningen, vaskulitis, dan hipoperfusi. 

Meningitis

E. MANIFESTASI KLINIS
Menurut Brunner & Suddath. 2002. Gejala meningitis diakibatkan dari infeksi dan peningkatan tekanan intra cranial. Berupa :
• Sakit kepala dan demam, adalah gejala awal yang sering. Sakit kepala dihubungkan dengan meningitis yang selalu berat dan sebagai akibat iritasi meningen. Demam umumnya ada dan tetap tinggi selama perjalanan penyakit.
• Perubahan tingkat kesadaran, dihubungkan dengan meningitis bakteri. Disorientasi dan gangguan memori biasanya merupakan awal adanya penyakit. Perubahan yang terjadi bergantung pada beratnya penyakit, demikian pula respon individu terhadap proses fisiologi. Manifestasi perilaku juga umum terjadi. Sesuai pengembangan penyakit, dapat terjadi letargik, tidak responsi, dan koma.
• Iritasi meningen, mengakibatkan sejumlah tanda yang mudah dikenali yang umumnya terlihat pada semua tipe menngitis.
• Rigiditas nukal, (kaku leher) adalah tanda awal. Adanya upaya untuk fleksi kepala mengalami kesukaran karena adanya spasme otot-otot leher.
• Tanda kernig positif; ketika pasien dibaringkan dengan paha dalam keadaan fleksi kearah abdomen, kaki tidak dapat diekstensikan sempurna.
• Tanda Brudzinski: Bila leher pasien difleksikan, maka dihasilnya fleksi lutut dan pinggul; bila dilakukan fleksi pasif pada ekstremitas bawah pada salah satu sisi, maka gerakan yang sama terlihat pada sisi ekstremitas yang berlawanan.
• Fotophobia(respon nyeri terhadap sinar) akibat iritasi syaraf-syaraf kranialis.
• Kejang dan peningkatan TIK, kejang terjadi sekunder akibat area fokal kortikal yang peka. Tanda-tanda peningkatan TIK sekunder akibat eksudat purulen dan edema serebral terdiri dari perubahan karakteristik tanda-tanda vital (melebarnya tekanan pulsa dan bradikardia), pernafasan tidak teratur, sakit kepala, muntah dan penurunan tingkat kesadaran.
• Adanya ruam, seperti terdapat lesi-lesi pada kulit diantaranya ruam ptekie dengan lesi purpura sampai ekimosis pada daerah yang luas.
• Infeksi fulminating terjadi pada sekitar 10% pasien dengan meningitis meningokokus, dengan tanda-tanda septikemia; demam tinggi yang tiba-tiba muncul, lesi purpura yang menyebar (sekitar wajah dan ekstremitas), syok dan tanda-tanda kuagolupati intravaskular diseminata (KID). Kematian mungkin terjadi dalam beberapa jam setelah serangan infeksi.
• Organisme penyebab infeksi selalu dapat diidentifikasi melalui biakan kuman pada cairan serebrospinal dan darah. Counterimmunoelectrophoresis (CIE) digunakan secara luas untuk mendeteksi antigen bakteri pada cairan tubuh, umumnya cairan serebrospinal dan urine.

F. EVALUASI DIAGNOSTIK
Pada meningitis perlu dilakukan pemeriksaan sebagai berikut :
Kultur darah/hidung/tenggorok/urine : Dapat mengindikasikan daerah ”pusat” infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi.

Pemeriksaan antigen bakteri pada cairan otak : 
MRI/skan CT : Dapat membantu melokalisasi lesi, melihat ukuran/letak ventrikel; hematom daerah serebral, hemoragik atau tumor.
Ronsen dada, kepala, dan sinus : Mungkin ada indikasi infeksi atau sumber infeksi kranial.
 
Pemeriksaan cairan otak
a. Cairan otak pada meningitis purulenta
- Tekanan : Tekanan cairan otak meningkat diatas 180 mm H2O.
- Warna : Cairan otak berwarna mulai dari keruh sampai purulen bergantung pada jumlah selnya.
- Sel : Jumlah leukosit meningkat. Biasanya berjumlah 200-10.000 dan 95% terdiri dari sel PMN. Setelah pengobatan dengan antibiotika perbandingan jumlah sel MN (Mononuklear) terhadap sel PMN meningkat.
- Protein : Kadar protein meningkat, biasanya diatas 75 mg/100 ml.
- Klorida : Kadar klorida menurun. Kurang dari 700 mg/100 ml.
- Gula : Kadar gula menurun. Biasanya kurang dari 40 mg% atau kurang dari 40% kadar gula darah yang diambil pada saat yang bersamaan.

b. Cairan otak pada meningitis tuberkulosa.
- Warna : Jernih atau santokrom.
- Sel : Jumlah sel meningkat, biasanya tidak melebihi 500/mm3 dan sel mononuklear lebih banyak.
- Kadar protein meningkat.
- Kadar gula menurun.
- Kadar klorida menurun.
- Bila didiamkan akan terbentuk pelikula yang berbentuk sarang labah-labah.
- Pada pemeriksaan mikroskop dan biakan akan ditemukan kuman tuberkulosis.

c. Cairan otak pada meningitis karena virus.
- Warna : jernih.
- Sel : Jumlah sel meningkat antara 10-1000/mm3 .
- Kadar protein normal atau naik sedikit.
- Kadar gula normal.
- Kadar klorida normal.

G. POTENSIAL KOMPLIKASI
- Edema serebri
- Hidrosefalus.
- Abses otak.
- Koma.
- Kejang.
- Kehilangan fungsi saraf: perubahan tingkah laku dan perkembangan motorik.
- Kehilangan pendengaran dan penglihatan.
- SIADH
- Syok
- KID
- Henti nafas.
- Kematian.

H. PENATALAKSANAAN MEDIS
o Tentukan organisme penyebab. 
o Isolasi pernapasan atau ketat tegantung pada organisme.
o Cairan parenteral diberikan untuk mempertahankan kebutuhan sampai masalah SIADH teratasi. Puasakan, selanjutnya beri diet dari cairan jernih sampai diet yang sesuai usia dan toleransi pasien: cairan dapat dibatasi saat diet mulai diberikan: cairan parenteral diturunkan sesuai peningkatan cairan peroral. 
o Masukan dan haluaran: antibiotik dosis tinggi diberikan melalui intravena untuk mengisolasi organisme (antibiotik yang mencakup spektrum luas sampai organisme dapat diisolasi).
o Antipiretik
o Antikonvulsan
o Steroid dapat diberikan dengan maksud untuk mereduksi faktor penyebab ketulian.
o Ulangi fungsi lumbal untuk mengkaji efektivitas terapi

1. Pengobatan Umum : tirah baring total, 5 B (Breathing, blood, braind, bowel, bladder).
2. Pengobatan Spesifik : pemberian antibiotik spektrum luas, segera dilakukan tindakan-tindakan untuk menurunkan tekanan intrakranial beberapa jenis meningitis diharuskan pasien di isolasi di rumah.
  
I. PENCEGAHAN
1. Penderita diisolasi
2. Vaksinasi, seperti; 
- Vaksi meningokokus yang telah diizinkan di AS mencakup polisakarida grup A, C, W153 dan Y, dan digunakan terutama perekrutan militer. Vaksin ini mungkin menguntungkan bagi beberapa orang yang mengunjungi daerah yang mengalami epidemik penyakit meningokokus. Vaksinasi juga harus dipertimbangkan sebagai tambahan antibiotik kemoprofilaksis untuk beberapa orang yang tinggal dengan pasien yang mengalami infeksi meningokokus.
- Vaksin polisakarida (Haemophilus b polysaccharide vaccine) melawan masuknya Haemophilus influenzae tipe b yang telah diizinkan penggunaannya di AS dan sekarang digunakan rutin untuk pencegahan meningitis pada pediatrik.
3. Diberi obat-obatan
– Untuk meningokokus diberi obat Rifampisin, sulfadiazine.
– Untuk Hemofilus influenza diberi obat, Rifampisin

J. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
Adapun penatalaksanaan keperawatan menurut Brunner & suddath yaitu; 
- Pada semua tipe meningitis, status klinis pasien dan tanda-tanda vital dikaji terus menerus sesuai perubahan kesadaran yang dapat menimbulakn obstruksi jalan napas. Penemuan gas darah arteri, pemasangan selang endotrake (trakeostomi) dan penggunaan ventilasi mekanik.
- Pantau tekanan arteri untuk mengkaji syok, uang mendahului gagal jantung dan pernapasan. Catat adanya vasokontriksi, sianosis yang menyebar, dan ekstremitas dingin. Demam yang tinggi diturunkan untuk menurunkan kerja jantung dan kebutuhan oksigen otak.
- Penggantian cairan intravena dapat diberikan, tetapi perawatan tidak dilakukan untuk melebihi hidrasi pasien karena risiko edema sereberal.
- Berat badan, elektrolit serum, volume dan berat jenis urine, dan osmolalitas urine dipantau secara ketat, dan khusunya bila dicurigai hormon sekresi antidiuretik yng tidak tepat (ADH).
- Penatalaksanaan keperawatan berkelanjutan memerlukan pengkajian yang terus menerus terhadap status klinis klien, pengkajian pada TTV (Tanda-Tanda Vital), Perhatikan terhadap kebersihan kulit dan mulut, serta peningkatan dan perlindungan selama kejang saat koma.
- Rabas dari hidung dan mulut dipertimbangkan infeksius. Isolasi pernapasan dianjurkan sampai 24 jam setelah mulainya terapi antibiotik.


ASUHAN KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN
Pemeriksaan fisik
Riwayat infeksi terdahulu.
- Sistem kardiovaskuler
Adanya riwayat kardiopatologi, seperti endokarditis.
Tekanan darah meningkat, nadi menurun, dan tekanan nadi berat (berhubung dengan peningkatan TIK dan pengaruh pada pusat vasomotor). Trikardia, distrimia (pada pase akut), seperti distrimia sinus.

- Sistem persarafan
Sakit kepala, parestesia (terasa kaku pada semua persyarafan yang terkena), kehilangan sensasi (kerusakan pada saraf kranial). Hipergesia (meningkatnya sensitivitas pada nyeri, timbul kejang, gangguan pada penglihatan, seperti diplopia, fotofobia, ketulian atau mungkin hipersensitif terhadap kebisingan, adanya halusinasi penciuman/sentuhan.
Status mental/tingkat kesadaran; letargi sampai kebingungan yang berat hingga koma, delusi dan halusinasi. Kehilangan memori, sulit dalam mengambil keputusan, afasia ( kesulitan dalam berkomunikasi).
Mata (ukuran/reaksi pupil); unisokor atau tidak berespon terhadap cahaya, nistagmus (bola mata bergerak-gerak terus menerus). Ptosis (kelopak mata atas jatuh). Karakteristik fasial (wajah):; perubahan pada fungsi motorik dan sensorik (saraf kranial V dan VII terkena).
Kejang umum, kejang lobus temporal. Otot mengalami hipotonia/flaksid paralisis(pada fase akut meningitis). Hemiparese atau hemiplegia. Tanda brudzinski positif dan tanda kernig positif merupakan indikasi adanya iritasi meningeal (fase akut).
Refleks tendon dalam; terganggu, babinski positif. Refleks abdominal menurun/tidak ada, refleks kremastetik hilang pada laki-laki. 

- Sistem pernafasan
Adanya riwayat infeksi saluran nafas atas.
Adanya ronki/mengi, takipnea dan peningkatan kerja pernapasan

- Sistem muskuloskeletal
Fraktur pada tengkorak/cedera kepala.


B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
  Menurut Susan Martin Tucker yaitu sebagai berikut:
- Ketidakefektifan termolegulasi b.d proses infeksi
- Nyeri: Sakit kepala b.d iritasi jaringan serebral.
- Terhadap ketidakefektifan pernafasan b.d peningkatan Tekanan Intra Kranial (TIK) dan depresi fungsi serebral.
- Kurangnya pengetahuan b.d kurangnya informasi tentang proses penyakit dan penatalaksanaan akhir di Rumah
Sebagai tambahan diagnosa keperawatan pada meningitis menurut Donggoes, Morhouse dan Geissler yaitu
- Risiko tinggi terhadap infeksi b.d pemajanan orang lain terhadap pathogen.

C. INTERVENSI
Menurut Susan Martin Tucker 
No. Dx Intervensi Rasional
1 Ketidakefektifan termolegulasi b.d proses infeksi - kaji suhu tubuh setiap 4-8 jam sesuai indikasi.
- Gunakan selimut Hipotermia.







- Pertahankan suhu ruangan, lakukan tindakan pendinginan, berikan mandi kompres hangat dan singkirkan peralatan tenun tempat tidur yang berlebih.





- Perbanyak masukan cairan. - untuk mengidentifikasi pola demam pasien.
- Untuk membantu dalam mengontrol /menstabilkan peningkatan suhu eksterm. Menurunkan kebutuhan metabolit/resiko kejang dan meningkatkan keamanan pasien.
- Demam biasanya berhubungan dengan proses imflamasi tetapi mungkin merupakan komplikasi dari kerusakan hipotalamus. Terjadi peningkatan kebutuhan metabolisme dan konsumsi oksigen (trauma dengan menggigil), yang dapat meningkatkan TIK.
- Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak
2 Nyeri: Sakit kepala b.d iritasi jaringan serebral - Kaji tingkat kesadaran.


- Pertahankan lingkungan yang tenang, gelapkan ruangan bila terjadi fotofibia.
- Pertahankan tirah baring, bantu pasien dalam mencari posisi yang memberikan rasa nyaman.

- Tinggikan kepala sampai 300.



- Letakkan kain yang dingin diatas mata dan Pasang kap es dikepala. - untuk mengetahui perubahan tingkat kesadaran.
- Untuk mengurangi stimuli nyeri akibat gangguan dari luar dan menghindari nyeri akibat rangsangan cahaya.
- untuk memberikan rasa aman pada pasien dan untuk menurunkan gerakan yang dapat meningkatkan nyeri.
- Untuk menurunkan iritasi meningeal, resultan ketidaknyamanan lebih lanjut.
- Untuk meningkatkan vasokontriksi. Penumpulkan resepsi sensori yang selanjutnya akan menurunkan nyeri.
3 Terhadap ketidakefektifan pernafasan b.d peningkatan Tekanan Intra Kranial (TIK) dan depresi fungsi serebral.
 - Observasi TTV.



- Kaji dan pantau pernapasan: frekuensi, kedalaman, dan pola pernafasan.








- Kaji status pernafasan setiap 1-2 jam sesuai indikasi, auskultasi bunyi nafas.




- Baringkan pasien untuk mendapatkan ventilasi yang optimal.
- Bantu dan Intruksi pasien untuk berbalik dan napas setiap 2-4 jam.
- Berikan bantuan O2 bila diperlukan. - Untuk mengidentifikasi kemajuan/penyimpangan dari hasil yang diharapkan.
- Tipe dari pola pernapasan merupakan tanda yang berat dari adanya peningkatan TIK/daerah serebral yang terkena dan mungkin merupakan indikasi perlunya untuk melakukan instubasi dengan disertai pemasangan ventilator mekanik. 
- Adanya ronki/mengi, takipnea dan peningkatan kerja pernapasan mungkin mencerminkan adanya akumulasi sekret dengan risiko terjadinya infeksi pernapasan.
- Memobilisasi sekret dan meningkatkan kelancaran sekret yang akan menurunkan resiko terjadinya komplikasi terhadap pernapasan.

- Terjadinya asidosis dapat menghambat oksigen pada tingkat sel yang memperburuk/meningkatkan iskemik serebral.
4 Kurangnya pengetahuan b.d kurangnya informasi tentang proses penyakit dan penatalaksanaan akhir di Rumah
 - Berikan penjelasan hubungan antara proses penyakit dan gejalanya.

- Jelaskan pada keluarga perlunya memberikan dorongan, pengungkapan; bantu pasien memahami sifat dari kelainan.
- Jelaskan pentingnya aktivitas fisik sesuai toleransi
- Jelaskan perlunya merencanakan waktu istirahat.







- Diskusikan tentang tanda dan gejala kondisi yang harus dilaporkan pada dokter.

- Jelaskan pentingnya rawat jalan yang berkelanjutan.
 - Meningkatkan pemahaman, mengurangi rasa takut karena ketidaktahuan.
- Membantu ningkatkan perasaan pasien, yang dapat neringankan rasa takut akan penyakitnya


- Membantu dalam menemukan fungsi/kekuatan otot.
- Kelelahan sering timbul melebihi apa yang diharapkan pasien/keluarga. Istirahat tambahan diperlukan untuk membantu proses penyembuhan dan meningkatkan kemampuan koping.
- Evaluasi dan intervensi awal dapat mencegah kambuhnya penyakit/berkembangnya komplikasi.
- Penting sekali untuk mengetahui perkembangan penyembuhan/mengubah terapi yang diberikan dan untuk menentukan adanya penurunan fungsi neurologis.
5. Risiko tinggi terhadap infeksi b.d pemajanan orang lain terhadap pathogen.

 - Berikan tindakan isolasi sebagai tindakan pencegahan.










- Pertahankan teknik septik dan teknik cuci tangan yang tepat baik pasien, pengunjung, maupun staf. Pantau dan batasi pengunjung/staf sesuai kebutuhan.


- Pantau suhu secara teratur. Catat munculnya tanda-tanda klinis dari proses infeksi - Pada fase awal meningitis meningokokus atau infeksi ensefalitis lainnya, isolasi mungkin diperlukan sampai organismenya diketahui/dosis antibiotik yang cocok telah diberikan untuk menurunkan risiko penyebaran pada orang lain.
- Menurunkan risiko pasien terkena infeksi sekunder. Mengontrol penyebaran sumber infeksi, mencegah pemajanan pada individu terinfeksi (mis, individu yang mengalami infeksi saluran napas atas.
- Terapi obat biasanya akan diberikan terus selama kurang lebih 5 hari setelah suhu turun (kembali normal) dan tanda-tanda klinisnya jelas. Timbulnya tanda klinis yang terus menerus merupakan indikasi perkembangan dari meningokosemia akut yang dapat bertahan sampai berminggu-minggu/berbulan-bulan atau terjadi penyebaran patogen secara hematogen/sepsis. 
D. IMPLEMENTASI
Mengkaji suhu tubuh setiap 4-8 jam sesuai indikasi.
Mengobservasi TTV setiap 3 jam atau lebih sering.
Menggunakan selimut Hipotermia.
Mertahankan lingkungan yang tenang, gelapkan ruangan bila terjadi fotofibia.
Mempertahankan tirah baring, bantu pasien dalam mencari posisi yang memberikan rasa nyaman.
Meninggikan kepala sampai 300.
Meletakkan kain yang dingin diatas mata.
Memasang kap es dikepala.
Memperbanyak masukan cairan.
Mengkaji dan pantau pernapasan: frekuensi, kedalaman, dan pola pernafasan.
Mengkaji status pernafasan setiap 1-2 jam sesuai indikasi.
Mengauskultasi bunyi nafas.


E. EVALUASI
Evaluasi yang diharapkan :
• Pasien dalam keadaan normotermia, suhu tubuhnya beerkisar pada 370 
• Pasien mengungkapkan tidak adanya atau sakit kepalanya mulai membaik.
• Pasien memperlihatkan pola pernafasan ynag efektif, ekspansi dada simetris, bunyi nafas jelas ketika di auskultasi, TTV dalam batasan normal, dan tidak terdapat tanda distress pernafasan.
• Pasien atau orang terdekat dapat mengetahui penyakit yang diderita pasien dan pengertian mengenai penatalaksanaan perawatan di rumah.
• Mencapai masa penyembuhan tepat waktu, tanpa bukti penyebaran infeksi endogen atau keterlibatan orang lain.
 
BAB III
KESIMPULAN

Jadi dapat disimpulkan bahwa terjadinya meningitis diakibatkan karena adanya infeksi atau peradangan pada meningen (membrane yang mengelilingi otak dan medulla spinalis) yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau organ-organ jamur. Beberapa keadaan yang merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya meningitis, yaitu mencakup : Infeksi jalan napas bagian atas, Otitis media, mastoiditis, Anemia sel sabit dan hemoglobinopatis lain, Prosedur bedah saraf baru, trauma kepala, dan pengaruh immunologis. 
Saluran vena yang melalui nasofaring posterior, telinga bagian tengah, dan saluran mastoid menuju otak dan dekat saluran vena-vena meningen; semuanya ini penghubung yang menyongkong perkembangan bakteri.
Penyakit ini dapat terjadi pada segala umur, tetapi jarang dibawah 6 bulan. Yang tersering adalah pada anak-anak umur 6 bulan sampai 5 tahun. Perawatan yang intensif dan pemberian antibiotika yang cepat dan tepat serta dengan dosis yang memadai penting untuk menyelamatkan nyawa dan mencegah terjadinya cacat serta kematian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar